Beladiri Jepang: Harmoni Tubuh dan Kesadaran

By : Galih Iman

Kali ini sy mau bahas soal beladiri Jepang.

Beladiri Jepang pun pada hakikatnya merupakan beladiri holistik di mana memadukan antara pelatihan Jasmani dan Rohani. Apa rohani ini maksudnya adalah klenik? Bukan, tapi spiritualitas. Spiritualitas bukanlah hal supranatural apalagi Supra X 125 cc hehehe.

Coba perhatikan, semua beladiri Jepang mengenal Reiho, yaitu cara hormat dgn membungkukkan badan, baik posisi berdiri maupun seiza / duduk simpuh.

Lah cara hormat di mana spiritualitasnya? Begini, spiritual artinya adalah “Kesadaran”. Kesadaran maksudnya adalah kesadaran mengenal diri sendiri, mengenal hakikat diri. Dengan menghormat kita melatih kesadaran dalam arti sadar bahwa saat itu , detik itu kita sedang melakukan reiho. Di sisi lain kita menyadari hakikat diri kita sebagai manusia dgn cara menghormati orang yg ada di depan kita, sebagai manusia tentunya.

Eittt tapi dalam beladiri Jepang, hormat bukan hanya sm pelatih atau partner latihan, bahkan ketika mau menginjak tatami/ matras pun kita menghormat. Ini melatih kesadaran seperti sy ulas tadi, juga melatih menghargai alam semesta, dimulai dari yg paling dekat, yaitu tatami, sehingga nanti ada koneksi dan harmonisasi dgn alam semesta.

Rumit pemahamannya? Ya memang, itulah tidak mungkin paham jika tidak ada guru kompeten yg bisa menjelaskan, tidak mungkin jg paham tanpa mencoba menjalani dgn kesadaran tentunya. Awalnya mungkin hanya ikut2an tradisi, lama2 akan paham bahwa sesungguhnya ada aspek “Zen” di situ.

Apakah dalam beladiri Jepang itu ajaran pure Zen? Tentu tidak, Zen sendiri merupakan ajaran Buddhis Zen yg asalnya dari Ch’an dari kata Dhyana yg artinya kurang lebih adalah konsentrasi atau meditasi.

Beladiri Jepang dipengaruhi ajaran Zen , namun hanya mengambil “sisi praktisnya”.

Di mana lagi contoh pengaruh ajaran Zen? Coba tengok dalam semua beladiri Jepang ada unsur Kamae atau postur atau kuda2 beserta cara berdirinya. Tiap aliran punya kamae masing2 yg khas. Pelajaran kamae bukan cm pelajaran soal positioning dalam membela diri atau sekedar hanya untuk dasar cara berdiri sebelum melakukan aksi serang bela. Akan tetapi Kamae ini penuh makna. Terlepas itu, jelas dipengaruhi oleh ajaran Zen. Di mananya? Ketika Kamae kita berfokus pada bentuk dan postur, pada awalnya tentu konsentrasi pada bentuk. Dalam setiap kamae tentu ga terlepas dari konsep posisi dan pergerakan berdasarkan seika tanden atau hara, yaitu titik pusat kurang lebih dua tiga jari di bawah pusar. Eittt jangan terlalu bawah pusar ya, nanti lain lagi urusannya hahahaha.

Intinya adalah konsentrasi , yg dilawan adalah diri sendiri, bukan musuh, lah wong latihan Solo kok tanpa lawan basic-nya. Konsentrasi bagaimana posisi kaki, bagaimana posisi tangan , bagaimana titik berat serta bagaimana mempertahankan posisi seika tanden tetap stabil. Termasuk bagaimana cara bernapas.

Ketika konsentrasi terhadap hal2 tersebut , kita tidak berpikir bagaimana menghadapi lawan atau nanti mau melakukan teknik apa. Tapi untuk dasar adalah fokus pada kamae. Kamae adalah kamae, titik ! Kamae yg sedang kita lakukan saat itu, detik itu, tidak sedetik ke belakang, tidak sedetik ke depan. Ini pengaruh ajaran Zen jg, di mana berbicara mengenai “kesadaran saat ini, detik ini, sekarang”.

Nanti naik tingkat konsentrasinya bukan lagi pada membetulkan posisi, tapi ketika sudah terbiasa, maka konsentrasinya adalah “kosong”. Kosong tidak berpikir? Tentu tidak, orang yg tidak berpikir itu ya artinya tidak sadar, sementara Zen menuntut kesadaran penuh. Kosong di sini artinya sudah tidak dipusingkan lagi hal2 seperti : “ini beratnya di kaki depan apa belakang “, “ini posisi punggung bagaimana “ dan blablabla lainnya. Tapi sudah sadar menyadari bahwa kita saat ini, sekarang, sedang melakukan kamae tertentu. Dan tentu saja napas jg akan teratur dgn sendirinya.

Di mana pun ajaran Zen bicara konsentrasi artinya bicara soal pikiran. Bagaimana caranya belajar mengendalikan pikiran? Dengan menghentikan sendiri “Monkey mind” / pikiran kita sendiri yg senantiasa meloncat2 ke sana kemari. Bagaimana menghentikannya? Dengan menyadari napas kita terlebih dahulu. Ingat menyadari bukan mengatur napas lho. Soal mengatur napas nanti ada lagi bahasannya.

FYI, ada Grand Master ngaku2 paham Zen tapi ketika ditanya hanya jawab “pokoknya menyadari pikiran”. Betul ga salah, cm kan itu cm sebatas retorika. Tidak gampang memahami pikiran apalagi menyadarinya dgn penuh kesadaran. Tentu ada latihannya bukan?! Dan ada step by stepnya!!!

Coba tengok dalam latihan Judo, ada sesi latihan ngepel lantai Dojo. Selama ini mungkin kita hanya mengerti sebatas latihan fisik atau sebatas hanya etika di Dojo saja. Padahal jauh lebih dari itu. Sebetulnya dgn mengepel, jika tau konsepnya, itu sedang latihan dasar Zen. Biksu-biksu aliran Zen bahkan melatih diri dgn cara menyapu halaman, mencuci piring dan jg sekedar meditasi berjalan. Meditasi?! Ya, sesungguhnya ketika ngepel lantai itu ada aspek meditatifnya. Itulah pengaruh Zen dalam beladiri Jepang.

Makanya beladiri Jepang klasik tidak bicara soal sekedar kalah menang , tidak bicara sekedar latihan fisik tapi jg bicara soal “controlling mind and purifying your soul”.

Apa penulis sudah bisa? Boro-boro, penulis mah baru sekedar tau doktrin dan teorinya, masih belajar dan sedang coba memahami apa itu konsep “kosong/ emptyness”.

Semua jg step by step kan. Ketika menempuh jalan beladiri, tentu pemahamannya dicapai via jalan beladiri. Satu persatu mulai dari cara reiho, kamae, termasuk nanti bicara maai/ jarak, dan seterusnya.

Back to “kamae” dan “kata”. Kata ini ada yg solo, tapi ada jg aliran yg melakukan kata secara berpasangan, mungkin bisa dibilang dgn istilah “waza”. Sesungguhnya ada beladiri yg isinya waza berpasangan , yg mana hakikatnya itu adalah kata namun dilakukan berpasangan , mau kata Solo ataupun berpasangan , kalai diperhatikan maka konsepnya adab pemahaman perubahan dari satu kamae ke kamae lain karena eksekusi teknik tentu dimulai dari posisi berdiri yg enak beserta positioningnya.

Salah kaprah yg terjadi untuk mind set western adalah “menganggap waza berpasangan sebagai teknik praktis dan prakteknya plek-plek-plek saklek seperti bentuk kata atau waza berpasangannya”. Padahal tidak juga sih. Waza ataupun kata sekalipun terlihat seperti aplikasi praktis , itu adalah seperti “bento”/ kotak makan Jepang, bukan isinya atau makanannya. Yg dimakan kan makanannya misalnya sushi atau teriyaki , bukan bentonya atau kotak makannya. Kalau ga ada bento tentu sushi nya akan berantakan ketika kita bawa kemana-mana .

Nah aplikasi pun demikian, dalam kehidupan real bukan waza atau kata yg kita gunakan, tapi isi beserta esensi dari waza atau kata yg kita pergunakan.

Terus dalam aplikasi di mana aspek Zen-nya? Pertama konsentrasi, kedua mencoba untuk tenang. Nah untuk bisa demikian tentu napas harus teratur bukan. Coba aja ketika kita marah atau ketakutan atau merasa terancam, napas kita akan terengah-engah. Artinya napas adalah kunci. Kemudian ada lagi namanya Zanshin mungkin secara bebas bisa dimaknai sebagai “kewaspadaan”, “sima/ aura dalam pengertian spirit sugesti”, balik lagi sih soal kewaspadaan, ya pada akhirnya ke soal “kesadaran”.

Itulah makanya ketika melakukan latihan berpasangan dimulai dgn reiho, saling hormat, di situ kita sudah mulai membangun koneksi dgn lawan main kita. Dilanjut dgn masing2 melakukan posisi kamae , di sini pun ada unsur “rasa” bermain, bagaimana merasakan ketika lawan bergerak melakukan kamae, kita pun bergerak dgn penuh kewaspadaan tentunya. Selanjutnya lawan main melakukan serangan , dalam hal ini secara terukur dan sesuai kurikulum , nah yg menerima belajar untuk merasakan dulu arah serangan ini arahnya ke sini, bagaimana menentukan jarak / maai, bagaimana entering, kemudian eksekusi. Selepas eksekusi bagaimana posisi zanshin tadi.

Wah maaf ya jadi panjang pembahasannya. Kalau mau dibedah urusan kamae dan reiho aja bisa berjilid-jilid. Baca buku doang apa bisa paham? Bisa sih, bisa keblinger. Tetap harus ada guru kompeten yg menjelaskan . Dan ingat beladiri itu belajar melalui praktek, jadi ya harus melalui proses selangkah demi selangkah menjalani proses latihannya.

Makanya sy selalu bilang ga ada yg instan, karena yg instan itu hanya kopi dan mie instan, tinggal seduh air panas.

Kandang Gorilla bukan hanya sekadar tempat berlatih beladiri, tetapi juga ruang belajar, bertukar pikiran, dan tumbuh bersama.

© Copyright by Kandang Gorilla Jakarta — All Right Reserved